Tingkatan Penduduk Surga
Tingkatan Penduduk Surga adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 8 Sya’ban 1447 H / 27 Januari 2026 M.
Kajian Tentang Tingkatan Penduduk Surga
Dari Al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
Nabi Musa ‘Alaihissalam menanyakan kepada Tuhannya mengenai orang yang kedudukannya paling rendah di surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa orang tersebut adalah seorang laki-laki yang datang setelah seluruh penghuni surga masuk ke dalamnya. Kepada laki-laki itu diperintahkan:
ادْخِلِ الْجنَّة
“Masuklah ke dalam surga.”
Laki-laki itu menyampaikan pernyataan kepada Rabbnya mengenai cara ia masuk, sementara orang-orang telah menempati tempat mereka dan mengambil bagian masing-masing. Kemudian kepadanya diajukan pernyataan apakah ia rida jika mendapatkan kerajaan seperti kerajaan salah seorang raja di dunia. Laki-laki itu menjawab bahwa ia ridha.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman bahwa ia mendapatkan hal tersebut beserta tambahannya hingga lima kali lipat. Pada kali kelima, laki-laki itu menyatakan keridaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian berfirman:
هَذَا لَكَ وعشَرةُ أَمْثَالِهِ، ولَكَ مَا اشْتَهَتْ نَفْسُكَ، ولَذَّتْ عَيْنُكَ
“Ini untukmu dan sepuluh kali lipat darinya. Kamu juga mendapatkan apa saja yang diinginkan jiwamu serta dipandang lezat oleh matamu.”
Laki-laki itu pun menyatakan keridhaannya kepada Allah.
Nabi Musa kemudian menanyakan mengenai orang yang kedudukannya paling tinggi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
أُولَئِك الَّذِينَ أَردْتُ، غَرسْتُ كَرامتَهُمْ بِيدِي وخَتَمْتُ علَيْهَا، فَلَمْ تَر عيْنُ، ولَمْ تَسْمعْ أُذُنٌ، ولَمْ يخْطُرْ عَلَى قَلْبِ بشَرٍ
“Mereka adalah orang-orang yang Aku kehendaki. Aku menanam kemuliaan mereka dengan tangan-Ku dan Aku menutupnya rapat-rapat. Sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia.” (HR. Muslim)
Hadits ini menjelaskan bahwa kedudukan penduduk surga berbeda-beda sesuai dengan tingkatan yang Allah berikan kepada mereka. Derajat seseorang ditentukan oleh amal perbuatan yang dilakukannya di dunia, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا
“Dan setiap orang memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am[6]: 132)
Meskipun setiap penduduk surga memiliki tingkatan yang berbeda, penduduk dengan kedudukan terendah sekalipun mendapatkan kenikmatan yang berlipat ganda dibandingkan dengan kemewahan raja-raja di dunia. Hal ini menunjukkan betapa luasnya karunia, rahmat, serta besarnya perbendaharaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak terukur oleh nalar manusia.
Prinsip Aqidah terhadap Sifat-Sifat Allah
Hadits ini juga mengandung masalah aqidah yang sangat penting terkait asma’ dan shifat. Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkan semua sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagai contoh, saat Allah menyebutkan bahwa Dia menanam kemuliaan hamba-Nya dengan “tangan-Nya”, kita mengimani bahwa Allah memiliki tangan. Namun, tangan Allah tidak boleh dibayangkan atau disamakan dengan tangan makhluk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura[42]: 11)
Prinsip utama dalam beriman kepada sifat Allah adalah menetapkannya tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk (tasybih). Allah memiliki wajah dan tangan yang sesuai dengan keagungan-Nya, dan Dia Maha Suci dari kemiripan dengan makhluk-Nya.
Kisah Orang Terakhir yang Keluar dari Neraka
Hadist berikutnya, diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya aku mengetahui orang yang paling terakhir keluar dari neraka dan orang yang paling terakhir masuk ke surga. Ialah seorang laki-laki yang keluar dari neraka dengan merayap. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepadanya: “Pergilah dan masuklah ke surga.”
Maka ia mendatangi surga, namun ia dibayangkan bahwa surga telah penuh. Ia kembali dan berkata: “Wahai Rabbku, aku mendapatinya telah penuh.” Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepadanya: ‘Pergilah dan masuklah ke surga.’ Ia pun mendatanginya, namun kembali dibayangkan bahwa surga telah penuh. Ia kembali dan berkata: “Wahai Rabbku, aku mendapatinya telah penuh.”
Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepadanya:
اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ. فإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيا وعشَرةَ أَمْثَالِها، أَوْ إِنَّ لَكَ مِثْل عَشرَةِ أَمْثَالِ الدُّنْيا
“Pergilah, masuklah ke dalam surga. Sesungguhnya untukmu (balasan) sepadan dengan dunia dan sepuluh kali lipat darinya, atau sesungguhnya untukmu sepuluh kali lipat dunia.”
Orang itu berkata: “Apakah Engkau memperolok-olokku atau menertawakanku padahal Engkau adalah Sang Penguasa?”
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Sungguh aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tertawa hingga terlihat gigi geraham beliau.” Maka dikatakan bahwa itulah penduduk surga yang paling rendah kedudukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Segala pengetahuan mengenai akhirat berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dianugerahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagai hamba, kewajiban utama adalah beriman dan berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan kita ke dalam surga-Nya melalui rahmat, karunia, ampunan, serta ridha-Nya.
Kisah orang terakhir yang masuk surga menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berbuat sesuai dengan kehendak-Nya. Meskipun orang tersebut berkali-kali merasa surga telah penuh, Allah tetap memerintahkannya masuk dan memberinya kenikmatan sepuluh kali lipat dari kenikmatan dunia. Hal ini menjadi pengingat agar seorang hamba tidak berputus asa dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.
Oleh karena itu, jika terjatuh dalam dosa, segeralah bertobat, memperbanyak istighfar, dan meningkatkan amal saleh. Istiqomah di atas tauhid dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga akhir hayat merupakan nikmat besar yang harus terus diupayakan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terkadang tertawa hingga terlihat gigi geraham beliau saat menceritakan keajaiban akhirat sebagai bentuk ekspresi manusiawi.
Gambaran Kemah dan Kemegahan Surga
Hadist berikutnya yakni diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِي الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ، طُولُهَا سِتُّونَ مِيلًا، لِلْمُؤْمِنِ فِيهَا أَهْلُونَ، يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ فَلَا يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا
“Sesungguhnya orang mukmin di surga memiliki kemah yang terbuat dari satu permata yang berlubang, panjangnya enam puluh mil. Di dalamnya terdapat keluarga-keluarga yang dikelilingi oleh orang mukmin tersebut, namun satu sama lain tidak saling melihat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjelaskan keagungan Allah ‘Azza wa Jalla serta kemuliaan ciptaan-Nya di surga yang disediakan bagi orang-orang beriman. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Besar, Maha Agung, dan Maha Kuasa.
Allah membalas amal ibadah hamba-hamba-Nya dengan karunia yang luar biasa besar dan tidak sebanding dengan amal yang telah dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang masuk surga karena rahmat Allah, bukan semata-mata karena amalnya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ
“Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan rahmat, memberikan taufik, hidayah, serta kekuatan kepada seseorang agar mampu beriman dan beramal saleh. Seluruh taufik tersebut sepenuhnya berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Pohon Surga yang Tak Bertepi
Selain kemah permata, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menciptakan tumbuhan yang luar biasa besar di surga sebagaimana dalam hadist berikutnya yang diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ في الْجنَّةِ لَشَجرَةً يسِيرُ الرَّاكِبُ الْجوادَ المُضَمَّرَ السَّرِيعَ ماِئَةَ سنَةٍ مَا يَقْطَعُهَا
“Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pohon yang jika seorang pengendara kuda pacu yang cepat berlari di bawah naungannya selama seratus tahun, ia belum bisa melintasinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ukuran pohon-pohon di surga yang sangat besar berada di luar jangkauan akal manusia, sehingga tidak perlu dibayangkan hakikat bentuknya. Hal yang paling utama adalah beriman sepenuhnya kepada apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Besarnya pohon surga beserta bayang-bayangnya menunjukkan keagungan dan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena tidak ada yang lebih besar daripada Allah ‘Azza wa Jalla.
Pohon-pohon tersebut merupakan salah satu karunia yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada penduduk surga. Penting untuk dipahami bahwa meskipun memiliki nama yang sama dengan pohon di dunia, hakikatnya sangat berbeda.
Setiap muslim wajib meyakini dan beriman kepada seluruh informasi yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama hadits tersebut berstatus shahih. Umat Islam harus mengimani hal-hal yang bersifat ghaib meskipun tidak dapat dibayangkan secara lahiriah.
Keterangan mengenai penduduk surga serta kisah hamba Allah yang terakhir keluar dari neraka dan terakhir masuk surga merupakan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam bentuk sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Segala informasi tersebut adalah kebenaran yang harus diyakini. Harapan setiap mukmin adalah semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita sebagai penduduk surga melalui rahmat dan karunia-Nya. Amin ya Rabbal ‘alamin.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56030-tingkatan-penduduk-surga/